Pusaka di Usulkan Untuk Nama Jembatan Tayan

Home / berita / Pusaka di Usulkan Untuk Nama Jembatan Tayan
jembatan tayan kabupaten sangau kalimantan barat
sumber gambar : pontianakpost.com

 

Dilansir dari laman pontianakpost.com

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalbar Bapak Jakius Sinyor menargetkan Jembatan Tayan rampung pada November mendatang.  “Progses pembangunan jalan akses di Piasak rampung 100 persen. Panjang jalannya 2,5 kilometer,” ungkap Jakius seusai Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Kantor Gubernur Kalbar, Kamis (1/10).

“Selain itu di sana (jalan menuju Desa Kawat), juga ada penurunan jalan 20 persen. Tetapi pembangunan sudah dilaksanakan dan ditargetkan November semuanya rampung,” kata Jakius.

Menurut Jakius, pembangunan jembatannya mencapai 95,5 persen. Hanya jalan akses ke Desa Kawat yang progresnya baru 47 persen. Hal ini dikarenakan ada pelebaran jalan akses.

Jakius mengatakan pihaknya belum menetapkan jadwal peresmian jembatan Tayan. Ia menyerahkan sepenuhnya hal tersebut kepada Gubernur Kalbar. “Tergantung dari gubernur, bisa akhir Desember atau bisa juga bertepatan dengan HUT Pemda,” tutur Jakius.

Jakius mengungkapkan setelah jembatan Tayan pihaknya akan memprioritaskan pembangunan jembatan Kapuas 3. Panjang jembatan tersebut sekitar 2.500 meter dan sudah dilakukan studi kelayakan. Saat ini Pemprov Kalbar sedang menunggu hasil pembahasan detailed engineering design dari Kementerian PU.

“Tinggal penentuan titik koordinat dan DED dari Kementerian PU. Mudah-mudahan tahun ini juga selesai,” kata Jakius.

Ia menambahkan pembangunan jembatan Kapuas 3 dilaksanakan bersamaan dengan pembangunan jalan lingkar selatan. Jalan lingkar tersebut melewati jalan Kubu Raya dan Mempawah dengan panjang sekitar 29 kilometer.

“Bagian selatan ini dari Supadio menuju Jungkat. Jika DED dari Kementerian Pekerjaan Umum rampung, segera dilakukan pembebasan lahan pada tahun depan,” jelas Jakius.

Jembatan Tayan sudah hampir rampung. Sebentar lagi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah terhubung. Akan tetapi belum ada nama untuk jembatan sungai terpanjang di Indonesia itu.

Meskipun belum ada nama resmi yang disebut pemerintah, stake holder sudah mulai menyuarakannya. Salah satunya datang dari para alumnus SMPN 1 Tayan. Ketika reuni emas 50 tahun SMPN 1 Tayan, beberapa nama diusulkan.

Disebutlah Pusaka yang layak disandang oleh jembatan yang melintas di atas Sungai Kapuas tersebut. “Pusaka itu adalah akronim dari Pulau, Pusaka, Kawat,” kata Hasidin (70) warga kelahiran Tayan yang hadir dalam acara tersebut.

Tiga kata itu merupakan desa tempat Jembatan Tayan berdiri. Kedua ujung jembatan berada di Desa Kawat dan Piasak, sedangkan bagian tengah jembatan melintasi Desa Pulau.

Lebih dari itu Pusaka memiliki makna filosofis. Pusaka adalah suatu peninggalan, baik dari orang tua atau orang lain seperti guru kepada anak cucu maupun murid. Sebagai peninggalan titipan, Pusaka harus dijaga dan dirawat. Harapannya, Jembatan Tayan menjadi Pusaka yang bernilai sehingga dirawat oleh generasi berikutnya.

Nama lain yang diusulkan adalah Permata. Permata merupakan akronim dari Persaudaraan, Masyarakat, Tayan. Secara filosofis, Permata diartikan sebagai kilau yang membuat Tayan dan sekitarnya terang. “Jembatan Tayan terkoneksi dengan Trans Kalimantan. Dulu, sebelum ada Jalan Trans Kalimantan kawasan sekitar Tayan itu sepi. Gelap. Sekarang sudah ramai,” ujar Hasidin.

Jembatan Tayan panjangnya mencapai 2,4 kilometer dengan biaya hampir Rp1 triliun. Sarana transportasi kebanggaan Tayan, Sanggau, Kalbar, bahkan nasional. Untuk itu menurut Hasidin nama yang diberikan harus memiliki makna bersama. “Nama yang kami berikan itu tidak mengandung unsur SARA maupun politik.”

Raja Kesultanan Tayan, Gusti Yusri menyetujui nama yang diusulkan tersebut. Dia berharap pemangku kebijakan baik Pemprov Kalbar, DPRD Kalbar, maupun Pemerintah Pusat mengakomodir usulan tersebut. “Sehingga nanti, ketika diresmikan oleh Presiden jembatan itu sudah punya nama. Toh, nama-nama yang diusulkan tersebut baik dari segi bahasa dan makna,” katanya.

Gusti Yusri juga meminta pemerintah tidak sekadar membangun jembatan. Tidak kalah penting adalah menata kawasan yang dilintasi akses ke jembatan tersebut. Jika terlambat, dia khawatir kawasan akses ke jembatan tersebut semerawut. Gusti Yusri memaparkan banyak contoh kawasan baru yang semerawut karena tidak ditata sejak awal. “Sering tempat-tempat strategis seperti itu tumbuh apa adanya. Tidak ditata dan kelola oleh pemerintah,” ungkapnya.(uni/hen)